Minggu, 22 September 2013
Budaya dan Kebudayaan
2.1 Pengertian budaya
Kamus Dewan (2005) , budaya ditakrifkan sebagai kemajuan fikiran , akal budi (cara fikiran), berkelakuan dan sebagainya. Budaya juga dikelasifikasikan sebagai satu cara hidup yang diamalkan sesuatu kumpulan tertentu dan meliputi sistem sosial, susunan organisasi ekonomi, politik, agama, kepercayaan, adat resam, sikap dan nilai.
Dictionary of Philosophy (1996), the way of life of people, including their attitudes, values, beliefs, arts, sciences, modes of perception and habits of thoughts and activity.
Nik Safiah Karim, “budaya adalah tenaga fikiran, usaha rohani atau kuasa mengerakkan jiwa”.
Mohd Taib Osman (1988), “ budaya adalah satu himpunan kelengkapan intelektual dan kebendaan yang mampu memenuhi kehendak biologi dan kemasyarakatan serta dapat menyesuaikannya dengan keadaan sekeliling”.
Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi , “budaya merupakan satu alat penghasilan karya seni, rasa dan penciptaan dalam sesebuah masyarakat”.
Budaya dari segi bahasa merupakan satu cara yang diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat kini. Budaya merujuk kepada satu cara hidup yang diamalkan kebanyakan orang termasuk pemikiran, nilai kepercayaan, pandangan dan tabiat berfikir seseorang. Budaya merupakan warisan sosial manusia, cara pemikiran, perasaan dan tingkah laku yang boleh diwarisi. Budaya adalah hak masyarakat yang akan menentukan bentuk tingkah laku mereka.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka. Dengan demikian, hanya budaya yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
2.1 Pengertian kebudayaan
Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Andreas Eppink mengemukakan bahwa kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
2.3 Cara pandang terhadap kebudayaan
2.3.1 Kebudayaan sebagai peradapan
Pada umumnya orang memahami gagasan “budaya” yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang “budaya” ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap ‘kebudayaan’ sebagai “peradaban” sebagai lawan kata dari “alam”. Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya. Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang “elit” seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang “berkelas”, elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah “berkebudayaan”.
Orang yang menggunakan kata “kebudayaan” dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang “berkebudayaan” disebut sebagai orang yang “tidak berkebudayaan”; bukan sebagai orang “dari kebudayaan yang lain.” Orang yang “tidak berkebudayaan” dikatakan lebih “alam,” dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran “manusia alami” (human nature) .
Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan “tidak alami” yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan “jalan hidup yang alami” (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.
Saat ini banyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap “tidak elit” dan “kebudayaan elit” adalah sama – masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.
2.3.1 Kebudayaan sebagai sudut pandang umum
Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme – seperti perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria – mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam “sudut pandang umum”. Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara “berkebudayaan” dengan “tidak berkebudayaan” atau kebudayaan “primitif.”
Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.
Pada tahun 50-an, subkebudayaan – kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari kebudayaan induknya – mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan – perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau temspat bekerja.
2.3.3 Kebudayaan sebagai Mekanisme Stabilisasi
Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produk dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme.
2.4 Bentuk budaya
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
Gagasan
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
Aktivitas
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
Artefak
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
Dasar budaya
2.5.1 Rasional
Penggubalan Dasar Kebudayaan Kebangsaan adalah penting bagi sesebuah negara membangun dan yang mempunyai penduduk berbilang kaum seperti Malaysia. Dasar ini nanti akan dapat menjadi Garis panduan dalam membentuk, mewujud dan mengekalkan identiti negara di kalangan dunia antarabangsa. Penggubalan dasar ini perlu dibuat dengan mempertimbangkan fakta-fakta perkembangan sejarah serantau dan kedudukan negara ini sebagai pusat pertemuan serta pusat tamadun dan perdagangan sejak dua ribu tahun yang lampau. Peranannya sebagai sebuah pusat pertemuan, telah melahirkan proses interaksi, pengenalan, penyerapan dan penerimaan pelbagai unsur-unsur yang sesuai kepada kebudayaan asas rantau ini dari pelbagai unsur-unsur kebudayaan dunia.
Dengan yang demikian, sebagai satu proses yang berterusan, penwujudan Kebudayaan Kebangsaan Malaysia akan terus berlandaskan unsur-unsur dan tiga prinsip yang ditetapkan oleh Kerajaan sebagai Dasar Kebudayaan Kebangsaan yaitu:
Berteraskan kepada Kebudayaan Rakyat Asal rantau ini yang merangkumi kawasan Malaysia, Indonesia, Filipina, Singapura, Brunei, Thailand dan Kampuchea serta Kepulauan Selatan Pasifik (Polynesia, Melanesia dan Oceania) sehingga Malagasi adalah merupakan bahagian utama dari kawasan tamadun atau budaya Melayu. Rantau ini merupakan pusat pemancaran, pengembangan dan warisan Kebudayaan Melayu sejak zaman berzaman dan ditandai pula oleh kegemilangan dan keagungan tamadun Melayu yang berpusat di Melaka yang menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa perhubungan antarabangsa (linguafranca). Kebudayaan serantau ini digambarkan oleh persamaan-persamaan di bidang bahasa yang berasaskan keluarga bahasa Melayu - Austronesia, kedudukan geografi, pengalaman sejarah, kekayaan alam, kesenian dan nilai-nilai keperibadiannya. Budaya Melayu pada hari ini merupakan cara hidup, lambang identiti dan asas ukuran keperibadian kepada lebih 200 juta umat manusia yang menuturkan satu rumpun bahasa yang sama. Dengan yang demikian, kebudayaan rakyat asal rantau ini dalam pengertian sempit atau luasnya kebudayaan Melayu telah dijadikan teras kepada Kebudayaan Kebangsaan.
Unsur-unsur Kebudayaan Lain Yang Sesuai dan Wajar boleh diterima Kebudayaan sebagai sesuatu yang dinamik, sentiasa berubah-ubah melalui proses penyerapan dan penyesuaian secara berterusan. Prinsip ini bertepatan dengan situasi penduduk berbilang kaum yang mewarisi pelbagai budaya. Dengan itu unsur-unsur budaya Cina, India Arab, Barat dan lain-lain yang sesuai dan wajar diberi penimbangan dan penerimaan dalam pembentukan Kebudayaan Kebangsaan. Kesesuaian penerimaan dalam penyerapan ini adalah bergantung kepada tidak wujudnya percanggahan dengan Perlembagaan dan prinsip-prinsip Rukun Negara dan kepentlngan nasional serta asas-asas moral dan kerohanian sejagat pada amnya dan pada Islam sebagai agama rasmi negara khasnya.
Islam Menjadi Unsur Yang Penting Dalam Pembentukan Kebudayaan Kebangsaan - Agama atau kepercayaan kepada Tuhan merupakan unsur penting dalam proses pembangunan negara serta pembentukan rakyat yang berakhlak dan berperibadi mulia. Agama Islam memberi panduan kepada manusia dalam mengimbang dan memadukan usaha bagi mengisi kehendak-kehendak emosi dan fizikal dan kerana itu patut menjadi unsur yang penting dalam pembentukan Kebudayaan Kebangsaan memandangkan kedudukannya sebagai agama rasmi negara, di samping telah wujudnya fakta sejarah dan nilai-nilai Islam yang telah sedia didukung oleh sebahagian besar rakyat rantau ini. Ketiga-tiga prinsip asas di atas adalah melambangkan penerimaan gagasan Kongres Kebudayaan Kebangsaan 1971.
2.5.2 Objektif
Pembangunan Kebudayaan Kebangsaan bagi negara-negara yang baru merdeka amatlah penting untuk mewujudkan sebuah negara yang stabil dan bersatupadu. Dengan yang demikian usaha-usaha pembentukan Kebudayaan Kebangsaan Malaysia adalah bertujuan untuk mencapai tiga objektif penting iaitu:
Mengukuhkan perpaduan bangsa dan negara melalui Kebudayaan;
Memupuk dan memelihara keperibadian kebangsaan yang tumbuh daripada Kebudayaan Kebangsaan; dan
Memperkayakan dan mempertingkatkan kualiti kehidupan kemanusiaan dan kerohanian yang seimbang dengan pembangunan sosioekonomi.
Strategi dan Pelaksanaan Objektif dasar ini boleh dicapai melalui strategi-strategi berikut:
Pemulihan, pemeliharaan dan pembangunan kebudayaan ke arah menguatkan asas-asas Kebudayaan Kebangsaan melalui usahasama penyelidikan, pembangunan, pendidikan, pengembangan dan perhubungan budaya;
Meningkat dan mengukuhkan kepimpinan budaya melalui usaha-usaha membimbing dan melatih peminat, mendokong dan menggerak kebudayaan seluas-luasnya sebagai jentera pembangunan yang berkesan;
Mewujudkan komunikasi yang berkesan ke arah kesedaran kebangsaan, kenegaraan dan nasionalisme Malaysia;
Memenuhi keperluan sosiobudaya; dan
Meninggikan taraf dan mutu kesenian.
Di samping Kementerian Kebudayaan Kesenian dan Pelancongan, penglibatan pihak lain juga adalah penting dalam pelaksanaan dasar ini. Mereka termasuklah Kementerian-kementerian dan Jabatan-jabatan Kerajaan Pusat, Kerajaan-kerajaan Negeri, badan-badan berkanun dan pihak swasta serta pertubuhan-pertubuhan kebudayaan.
Peranan Kementerian Kebudayaan Kesenian dan Pelancongan dalam pelaksanaan matlamat dan strategi dasar ini adalah penting. Antara lain Kementerian ini menguruskan penyelidikan, pembangunan dan penggalakan, pendidikan dan pengembangan kesenian dan perhubungan ke arah kemajuan kebudayaan kebangsaan. Usaha-usaha itu dicapai melalui aktiviti-aktiviti pembangunan, persembahan seni oleh Kompleks Budaya Negara sebagai pengelola dan urusetia perhubungan kebudayaan antarabangsa, Majlis Kebudayaan Negeri, khidmat nasihat bagi mengukuhkan pertubuhan-pertubuhan kebudayaan dan kerjasama dengan badan-badan antarabangsa.
Peranan Kementerian/Jabatan, Kerajaan-kerajaan Negeri dan badan-badan berkanun yang lain adalah sama penting dalam melaksanakan strategi dasar ini di dalam pengurusan harian dan pelaksanaan dasar-dasar semasa. Peranan pihak swasta dan pertubuhan-pertubuhan kebudayaan kian diperlukan di mana badan-badan ini boleh memainkan peranan menjalankan usaha pembinaan dan kemajuan kebudayaan di peringkat organisasi masing-masing dan seterusnya membiayai penajaan program atau projek-projek kebudayaan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar