Minggu, 22 September 2013

Pemasaran kebidanan



       Jasa pemasaran adalah kegiatan  manusia yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan    manusia melalui pertukaran (pilip koher).
Sumarni dan Soeprihanto (1995)
Pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga,mempromosikan dan mendisribusikan barang dan jasa yang memuaskan.
W.Y.Stanton (1997)
Pemasaran adalah sesuatu yang meliputi seluruh sistem yang berhubungan dengan tujuan dari sebuah perencanaan dan penentuan harga sampai dengan promosi dan distribusi barang dan jasa yang bisa memuskan kebutuhan pembeli.
Trioso purnawarman (2001)
Pemasaran adalah suatu  proses sosial dan managerial dimana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain.
Dari beberapa defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa pemasaran merupakan suatu kegiatan atau proses tukar menuikar yang dapat memberikan nilai baik bagi konsumen maupun produsen sehingga dapat tercipta serangkaian kegiatan dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi serta pemantauan.
2.2   Karakteristik pemasaran jasa kebidanan
Pelayanan atau asuhan kebidanan termasuk dalam pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan memiliki karakteristik yang spesifik karena berhadapan langsung dengan individu.
Karakteristik pemasaran jasa dalam palayanan kesehatan antara lain :
Besifat sukarela.
Tidak memaksa klien untuk menggunakan layanan yang ditawarkan. Klien bebas menentukan pilihan pelayanan.
Kontak secara personal.
Dalam pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan harus melakukan kontak langsung secara personal dengan klien melalui pendekatan sosial budaya.
Berpacu dengan waktu.
Pelayanan kesehatan harus diberikan dengan segera dengan mempertimbangkan keadaan klien.
Sensitif (terutama kesehatan repsoduksi).
Kesehatan reproduksi merupakan hal yang sangat pribadi dan sensitif sehingga seringkali klien enggan berkunjung ke pelayanan kesehatan dan membicarakan masalah tersebut. Sikap yang menghormati privasi klien dan tidak menghakimi dari seorang bidan akan membuat klien bersikap positif terhadap layanan kesehatan yang kita berikan.

2.3    Pemasaran jasa dalam pelayanan kebidanan
Pemasaran jasa dalam pelayanan kebidanan memiliki empat komponen utama, yaitu :
 Klien/pelanggan
Klien atau pelanggan merupakan konsumen dari pelayanan kesehatan yang memiliki kedudukan sangat penting. Tipe pelanggan terdiri dari pelanggan perantara, pelanggan konsumen, pelanggan interna, dan pelanggan prospek.
  Kompetisi
Melalui keberadaan profesi lain akan tercipta iklim kompetisi yang apabila dikelola dengan baik maka akan memotivasi bidan untuk mengevaluasi dan mengembangkan diri.
 Jaringan
Jaringan diperlukan untuk memperluas cakupan pemasaran pelayanan kesehatan yang akan membantu kelancaran kegiatan pemasaran. Jaringan tersebut dapat berbentuk klinik, pelayanan di rumah, rujukan, dan perusahaan atau asuransi.
 Klinik
Dalam mengelola klinik diperlukan beberapa pertimbangan yang mencakup kekuatan merek, proses pelayanan, keunggulan kompetitif, dan tarif pelayanan.
Proses pemasaran pelayanan terbagi menjadi 3 kelompok :
Internal
         Melalui promosi internal, penawaran kemudahan, dan role model.
Interaktif
            Melalui rujukan, interaksi individual, dan komunikasi verbal.
Eksternal
Melalui iklan di media massa, materi promosi, dan program khusus Setiap usaha pada dasarnya menawarkan produk tertentu kepada masyarakat     sebagai target konsumennya. Konsep pemasaran modern terdiri dari 3 tingkat, yaitu :
Mengetahui keinginan calon pembeli.   
Melakukan kegiatan pemasaran terpadu.
 Memperoleh laba dan konsumen puas.

Langkah-langkah proses pemasaran:
Langkah 1
analisis yaitu dengan membuat inventarisasi kelompok sasaran dan mencari institusi-institusi stakeholder yang dapat membantu dan bekerja sama.
Langkah 2
Melakukan riset untuk mengetahui tanggapan masyarakat terutama kelompok sasaran trhdp produk atau jasa pelayanan yang akan diberikan.
Langkah 3
Menyusun srategi pemasaran. Strategi yang digunakan disini merupakan serangkaian tindakan terpadu menuju keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi:
Faktor mikro
Yaitu perantar pemasaran, pemasok dan pesaing
Faktor makro
Yaitu demografi ekonomi politik, teknologi, hukum, sosial-fisik dan budaya.
Langkah 4
Monitoring dan evaluasi untuk menentukan kekurangan dan kesalahan pada strategi yang digunakan.
Langkah 5
Pelaksanaan proses pemasaran
Strategi pemasaran dari sudut pandang penjual:
Tempat yang strategis
Produk yang bermutu
Harga yang kompetitif
Promosi yang gencar
Faktor-faktor yang mememgaruhi yaitu
Kebutuhan, keinginan dan permintaan
Kebutuhan manusia( human needs) adalah  perasaan dimana manusia tidak memiliki kepuasan dasar aau kepuasan yang dimiliki manusia tersebut tidak teratas. Kebutuhan tidak diciptakan manusia atau penyedia barang dan jasa namun sudah adadan terukir dalam hati setiap individu.
Keinginan (wants) adalah hasrat akan kebutuhan tersebut. Keiginan manusia dibentuk oleh kekuatan manusia dan instusi sosial.
Permintaan (demands) adalah keinginan atas sesutatu yang didukung dengan kemampuan setra kesediaan  membelinya. Keinginan menjadi permintan jila didukung dengn daya beli. Bebedaan ini bisa menjelaskan bahwa penyedia barang/jasa empengaruhi keinnan dn  permintaan dengan membuat suatu produk yang cocok, menaik, terjangkau dan mudah didapatkan oleh pelanggan yang dituju.
Produk
Produk merupakan sesuatu yang dapat ditawarkan unuk memuaskan suatu kebutuhan dan keinginan masyarakat.
Transaksi
memproduksi sendiri, pemaksaan, meminta maupun pertukaran,
Pertukaran
Pertukaran adalah tindakan untuk memperoleh barang yang dibutuhakn atau dikehendaki seseorang dengan menawarkan suatu imbalan.
Pasar
Pasar terdiri dari pelanggan yang potensial memliki kebutuhan yang sama, bersedia dan mampu melakukkan pertukaran untuk memenuhi kebutuhan tesebut.
Komponen pemasaran (4P 1C)
Produk
Produk adalah pelayanan yang disediakan, didefinisikan sebagai objek fisik, pelayanan organisasi dan ide.
Place
Place adalah tempat jasa yang ditawarkan atau tempat distribusi produk.
Price
Price adalah harga yang ditetapkan yang berhubungan dengan penjualannya.
Promotion
Promotion adalah alat utama untuk melakukan komunikasi persuasif dalam memberikan kesadaran konsumen tentang kebutuhannya.
Customer
Cutomer adalah pembeli produk atau jasa dapat berupa individu, keluarga, kelompok, masyarakat maupun lembaga.
2.4     Pelayanan kebidanan
Ruang lingkup pelayanan kebidanan sangat erat hubungannya dengan wewenang profesi bidan (Kepmenkes RI No.900/SK/VII/2002), mencakup :
    a. Pelayanan kebidanan
    b.Pelayanan keluarga berencana
    c. Pelayanan kesehatan masyarakat

2.4.1    Produk Pelayanan Kebidanan
Produk utama yang ditawarkan dalam profesi bidan adalah jasa pelayanan kesehatan khususnya bagi perempuan dan anaknya (bayi yang baru lahir). Dalam member jasa pelayanan diperlukan produk pendukung barupa barang, obat-obatan, alat kesehatan, perlengkapan persalinan dan sebagainya, sehingga dapat disimpulkan bahwa produk yang ditawarkan merupakan kombinasi barang dan jasa, dengan jasa sebagai produk utama dan barang sebagai produk pendukung.
Keberhasilan bidan dalam mengelola usahanya sangat ditentukan oleh kemampuan “maramu” dan mengelolah kedua jenis produk tersebut secara efektif. Ragam pelayanan bervariasi sejalan dengan perkembangan kebutuhan perempuan dan anaknya.

2.4.2   Desain jasa pelayanan BPS
Desain jasa pelayanan yang akan ditawarkan perlu ditentukan karena beberapa pertimbangan untuk menentukan fokus pada persiapan :
                    a. Persiapan sumber daya
                    b.Meletakkan harapan konsumen secara tepet
                    c. Memudahkan mengembangkan jasa
  2.5   Difusi inovasi dan Pemasaran sosial
Proses penyebarluasan informasi atau material baru dan satu sumber kepada para penerima yang ada dalam suatu sistem sosial, dalam konsep sosiologi-antropologi, disebut dengan difusi inovasi. Divusi inovasi merupakan model penyebarluasan gagasan atau material (teknologi) yang diperkenalkan oleh Everet M. Rogers. Rogers mengetengahkan cara penyebarluasan inovasi (misalnya, gagasan baru, pendekatan baru, dan strategi baru)  melalui saluran tertentu (umumnya sistem sosial tradisional-modern), dalam suatu tertentu kepada sejumlah anggota masyarakat atau komunitas dalam suatu sistem social.
Asumsi dari suatu inovasi adalah ada jenis-jenis gagasan tertentu yang perlu diadopsikan kepada anggota-anggota dari suatu sistem sosial karena mereka sangat membutuhkan informasi tersebut dari para pemuka pendapat dalam sistem sosial. Sedangkan karakteristik sukses inovasi terjadi kalau para anggota sistem sosial itu menerima inovasi tersebut.
Schinke dan Orlandi (1991) mengemukakan bahwa inovasi itu selalu menghasilkan suatu perubahan melalui 5 tahap :
            a.   Mobilisasi
Aktivitas dari pemrakarsa inovasi untuk menggerakkan seluruh unsure yang berkepentingan dalam proses komunikasi kesehatan. Misalnya, aktivitas untuk menggerakkan para komunikator kesehatan (penyuluh, pelatih, guru, mentor, dan lain-lain), merancang informasi, memilih media, mempersiapkan audiens atau kelompok sasaran agar komunikasi menjadi efektif dan efisien.
        b.      Adopsi
Aktivitas dari pemrakarsa inovasi untuk merancang informasi, kemudian dikirimkan melalui pilihan media tertentu, lalu mengupayakan metode dan strategi penyampaian dan aktivitas reaksi atau respons dari audiens terhadap informasi dalam bentuk menjadikan informasi itu sebagai sumber untuk mengubah keadaan audiens.
        c.       Implementasi
Aktivitas bersama antara inovasi dengan audiens untuk menerapkan gagasan, informasi, teknologi baru ditengah-tengah audiens.
        d.      Pemeliharaan
Aktivitas bersama antara inovasi dengan audiens untuk memelihara kelangsungan penerimaan dan pelaksanaan gagasan, informasi dan teknologi yang telah diterima (adopsi).berkesinambungan.
        e.       Evolusi
Aktivitas bersama antara innovator dan audiens untuk mengimplementasikan dan memelihara seluruh inovasi baru agar inovasi itu tetap berkesinambungan.

2.6   Peran Pemasaran dalam Pelayanan Kebidanan
        Peran pemasaran dalam pelayanan kebidanan adalah untuk :
1.      Menciptakan diferensiasi
Agar dapat bersaing dengan profesi lain, bidan dituntut mampu memberikan pelayanan kesehatan yang beragam (tanpa menyimpang dari kewenangan yang diberikan). Divertifikasi jenis layanan yang disertai dengan peningkatan kemampuan akan memperluas cakupan klien.
        2.      Manajemen kualitas pelayanan
Melalui proses pemasaran, bidan akan mampu mengevaluasi diri mengenai kelebihan dan kekurangan layanan kesehatan yang ia tawarkan kepada klien sehingga ia dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan.
        3.      Meningkatkan produktivitas
Tenaga kesehatan dituntut untuk memperluas wawasan keilmuannya serta keterampilan teknisnya sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada klien.
Pemasaran sosial mempunyai tujuan sebagai berikut:
Memberikan pelayanan yang bermutu yang dibutuhkan masyarakat.
Memberikan pelayanan sesuai dengan standart praktik, keterampilan yang mantap ( dalam memberikan pelayanan kepada klien ).
Manurunkan sensitivitas klien pada tarif.
Rekomendasi ( pemasaran ) gratis dari mulut ke mulut.
Menghemat biaya pemasaran.
Penurunan biaya melayani klien yang sudah mengenal baik sistem pelayanan.
Peningkatan pendapatan ( pembelian silang antara jasa dan produk )

2.7    Pemasaran sosial dan Publikasi kesehatan
Komunikasi kesehatan dapat dilakukan melalui beragam kegiatan : kampanye, propaganda, iklan, anjang sana, dan lain-lain. Setiap kegiatan semacam itu merupakan strategi yang dipilih sedemikian rupa sehingga dapat memuaskan audiens karena audiens merasa kebutuhan mereka atas informasi telah terpenuhi. Kebanyakan publikasi kesehatan dilaksanakan melalui difusi-inovasi. Pilihan ini sebenarnya merupakan pilihan model atau strategi yang dipinjam dari teori belajar sosial ((social learning)-Albert Bandura) dan pemasaran sosial (sosial marketing-Philip Kotler) (Backer and Rogers, 1992).
Contoh, kita ingin mempromosikan gagasan tentang pencegahan merokok dan pencegahan minum jamu. Untuk itu kita harus terlibat dalam proses komunikasi yang menghubungkan kita dengan audiens yang ada dalam sistem sosial. Hal ini karena para perokok dan peminum jamu ada dalam sistem tersebut, atau mereka “bukan” dalam sistem kita. Dari para perokok dan peminum jamu itulah kita akan mengetahui nilai apa yang menjadi rujukan mereka, norma apa yang mereka ikuti, dan siapa yang mereka ikuti sebagai orang yang berpengaruh. Dari sinilah kita akan merumuskan informasi kesehatan untuk menyentuh mereka, mengadakan perubahan atas pikiran dan pandangan mereka, dan merubah sikap mereka untuk tidak merokok atau minum jamu. Itulah target kampanye kita, target agar audiens sasaran tidak minum jamu.
Kadang-kadang kita harus berfikir bahwa kita tidak bisa mempengaruhi audiens hanya dengan menggunakan satu cara saja karena hasilnya akan sangat terbatas. Oleh karena itu, kita harus mengadakan penelitian awal untuk memilih salah satu dari banyak cara mempengaruhi audiens. William Mc Guire (1991) menyusun beberapa tahap yang harus dilakukan audiens ketika mereka menerima pesan (dan ini perlu diperhatikan ketika kita menyebarluaskan pesan kepada mereka).
 Ada beberapa masalah yang sering ada pada audiens, antara lain :
                a.    Berhadapan dengan pesan yang menerpa mereka.
                b.    Memperhatikan pesan.
        c.     Berminat terhadap pesan yang relevan dengan kehidupan mereka
                       sehari-hari                             
        d.     Memahami pesan.
        e.     Menerima pesan demi pembentukan perilaku dia.
        f.     Menerima perubahan.
            g.     Mengingat pesan dan meneruskan pesan itu kepada orang yang
                          setuju dengan dia
        h.      Berfikir lebih sebagai pendamping bagi perubahan audien.maju.
        i.      Membuat keputusan sebagai reaksi atas pesan yang audiens
                     terima.
        j.      Memutuskan perilaku tertentu.
        k.     Menerima pesan sebagai sesuatu yang positif mendukung
                    perilaku  audiens yang sudah ada.

2.8   Pemasaran sosial dan Advokasi media
Perkembangan pemasaran kini hampir tidak mungkin tanpa menggunakan media, karena itu peranan media hamper tidak mungkin diabaikan begitu saja yang disebut sebagai jasa advokasi media. Advokasi media meliputi kesepahaman dan kerjasama dengan media untuk membangkitkan perhatian publik terhadap isu atau perilaku yang akan diadopsikan. Kita akan meminta bantuan media untuk menggambarkan segala sesuatu mengenai produk yang akan diadopsikan secara rinci, misalnya, jenis produk, keuntungan dan kerugian, bagaimna cara mendapatkan produk , dan lain-lain. Pada tahap ini pemasaran sosial berfungsi mempengaruhi perilaku audiens, dan advokasi media sangat bermanfaat mengirimkan informasi secara berulang kali sebagai pendamping bagi perubahan audiens.

2.9  Proses Kerja Pemasaran Sosial
Pemasaran sosial merupakan konsep yang dipinjam dari pemasaran komersial yang sering digunakan untuk menjual produk atau gagasan demi memenuhi kebutuhan publik. Kunci sukses pemasaran sosial misalnya metode kampanye, terletak pada pelajaran tentang apa yang harus dikerjakan bersama “dengan” populasi sasaran, berarti pula tidak sekedar pelajaran tentang apa yang harus dikerjakan kepada populasi sasaran. Kata “dengan” menunjukkan bahwa ada kecenderungan populasi sasaran lebih suka pada perubahan yang dirancang bersama-sama dengan mereka.

2.10   Pemasaran sosial dan Penyuluhan kesehatan
Penyuluhan kesehatan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi tentang kesehatan secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar (Van dan Ban dan Hawkins, 1999). Kita dapat memanfaatkan metode dan teknik penyuluhan dalam menyebarluaskan informasi mengenai kesehatan agar kelompok sasaran dapat memutuskan sikap mereka pendapat, perasaan, perilaku tindakan tertentu).
Umumnya, para peminat penyuluhan (pakar dan praktisi penyuluhan) selalu menerapkan prinsip-prinsip penyuluhan melalui difusi-inovasi dengan membagi kategori audiens yang menjadi para penyuluhan sebagai berikut :
Innovators atau kira-kira 2,5% dari penduduk.
Orang yang cenderung mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaru dapat diketahui sebagai “early adopters” yang jumlahnya kira-kira 13,5% dari pasar. Mereka adalah konsumen baru yang ingin memiliki inovasi pada tingkat rendah terhadap pelayanan kesehatan baru dengan nilai yang tinggi.
Early majority” dan “late majority  jumlahnya adalah pasar potensial kira-kira 64% dari semua, dan banyak orang ada dalam kategori ini.
Aggard adalah orang yang baru tertarik dengan pelayanan kesehatan yang baru, jumlahnya kira-kira 20%.


BAB 3
KESIMPULAN

Pemasaran merupakan suatu kegiatan atau proses tukar menukar yang dapat memberikan nilai baik bagi konsumen maupun produsen sehingga dapat tercipta serangkaian kegiatan dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi serta pemantauan. Karakteristik pemasaran Besifat sukarela, Kontak secara personal, Berpacu dengan waktu, Sensitif (terutama kesehatan repsoduksi).
Tujuan pemasaran asuhan kebidanan
Memberikan pelayanan yang bermutu yang dibutuhkan masyarakat.
Memberikan pelayanan sesuai dengan standart praktik, keterampilan yang mantap ( dalam memberikan pelayanan kepada klien ).
Manurunkan sensitivitas klien pada tarif.
Rekomendasi ( pemasaran ) gratis dari mulut ke mulut.
Menghemat biaya pemasaran.
Penurunan biaya melayani klien yang sudah mengenal baik sistem pelayanan.
Peningkatan pendapatan ( pembelian silang antara jasa dan produk )
Peran pemasaran dalam pelayanan kebidanan adalah untuk :
Menciptakan diferensiasi
Agar dapat bersaing dengan profesi lain, bidan dituntut mampu memberikan pelayanan kesehatan yang beragam (tanpa menyimpang dari kewenangan yang diberikan). Divertifikasi jenis layanan yang disertai dengan peningkatan kemampuan akan memperluas cakupan klien.
Manajemen kualitas pelayanan
Melalui proses pemasaran, bidan akan mampu mengevaluasi diri mengenai kelebihan dan kekurangan layanan kesehatan yang ditawarkan kepada klien sehingga dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan.
Meningkatkan produktivitas
Tenaga kesehatan dituntut untuk memperluas wawasan keilmuannya serta keterampilan teknisnya sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada klien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar